salju

Sabtu, 04 Januari 2014

Review film : AKU TAK BODOH

ARTIKEL PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN

AKU TAK BODOH


NURMA EKA LESTARI
8105132163
PENDIDIKAN EKONOMI REG B


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2013


BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG MASALAH
Peran orang tua sangat besar dalam mendidik anaknya. Seorang ibu yang melahirkan anak menjaga dan memeliharanya dengan baik. Mereka terus mendidik anaknya dengan sabar agar dapat mengucapkan kata, berbicara, makan, dan belajar sendiri. Bahkan sampai menginjak dewasa, orang tua masih terus mendidik anaknya agar menjadi anak yang mandiri dan matang dan dapat menjalani hidupnya sendiri.
            Seiring berjalannya waktu, seiring dengan pertumbuhan anak, orang tua semakin berubah. Ada sebagian dari mereka yang tidak peduli kepada anak karena terlalu sibuk dengan dunianya dan menganggap anaknya sudah besar dan mandiri. Tapi sebenarnya anak itu masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Lalu adapula orang tua yang sebenarnya sayang kepada anaknya tetapi tidak tahu cara mengekspresikan dan menunjukkan rasa sayangnya kepada anaknya. Begitupula dengan guru di sekolah. Mereka hanya bisa memarahi bahkan mengecap anak didiknya yang tidak-tidak.
            Akan tetapi, banyak kesalahan yang sering dilakukan orang tua maupun guru di sekolah. Jika tidak ditanggapi dengan serius, kesalahan-kesalahan tersebut akan menimbulkan masalah yang besar. Misalnya anak yang di didik dengan keras dan kasar oleh orang tuanya. Hal tersebut akan menumbuhkan rasa takut dan minder pada anak atau bisa jadi anak tersebut sewaktu-waktu akan meniru perbuatan orang tua dan guru yang kasar tersebut. Anak juga akan lebih berani melawan orang tua di rumah.
            Jika anak kurang kasih sayang  dari orang tua, anak itu akan mencari kasih sayang diluar rumah. Anak tersebut juga akan terpengaruh pada pergaulan yang bisa jadi akan menjerumuskannya ke perilaku menyimpang. Terkadang orang tua hanya bisa memerintah tanpa bisa memberi contoh yang sesuai dengan perkataannya  kepada anaknya.


BAB II
ISI
            Pendidikan merupakan hal terbesar yang selalu diutamakan oleh para orang tua. Saat ini masyarakat semakin menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak mereka sejak dini.  Untuk itu orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam membimbing dan mendampingi anak dalam kehidupan keseharian anak. Sudah merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga dapat memancing keluar potensi anak. Kecerdasan dan rasa percaya diri. Dan tidak lupa memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap.
            Dapat kita lihat penyebab pada banyak kasus diatas yaitu, orang tua sering memaksakan kehendak mereka terhadap anak-anak mereka tanpa mengindahkan pikiran dan suara hati anak.  Orang tua merasa paling tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka. Hal ini sering dilakukan oleh orang tua yang berusaha mewujudkan impian mereka yang tidak dapat mereka raih saat mereka masih muda melalui anak-anak mereka. Kejadian seperti ini tidak seharusnya terjadi jika orang tua menyadari potensi dan bakat yang dimiliki oleh anak mereka. Serta memberikan dukungan moril dan sarana untuk membantu anak mereka mengembangkan potensi dan bakat yang ada.
            Anak akan mampu mengingat segala kejadian yang pernah ia alami dalam hidupnya, termasuk perlakuan orang tua kepadanya. Oleh karena itu, walaupun dalam hal yang kita anggap sepele, tetapi penting bagi orang tua menciptakan tindakan yang mencerminkan rasa cinta dan kasih sayang yang tulus itu kepada anak. Misalnya menghadiri kegiatan ekstrakurikuler anak.
            Untuk itu,  dibutuhkan teori-teori dari beberapa para ahli untuk dapat memecahkan masalah di atas. Dan saya rasa teori berikut dapat memecahkan masalah tersebut.
1. Teori Koneksionisme
Edward Lee Thorndike adalah tokoh psikologi yang mampu memberikan pengaruh besar terhadap berlangsungnya proses pembelajaran. Teorinya dikenal dengan teori Stimulus-Respons. Menurutnya, dasar belajar adalah asosiasi antara stimulus (S) de¬ngan respons (R). Stimulus akan memberi kesan ke-pada pancaindra, sedangkan respons akan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan. Asosiasi seperti itu disebut Connection. Prinsip itulah yang kemudian disebut sebagai teori Connectionism.
Pendidikan yang dilakukan Thorndike adalah menghadapkan subjek pada situasi yang mengandung problem. Model eksperimen yang ditempuhnya sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan kucing sebagai objek penelitiannya. Kucing dalam keadaan lapar dimasukkan ke dalam kandang yang dibuat sedemikian rupa, dengan model pintu yang dihubungkan dengan tali. Pintu tersebut akan terbuka jika tali tersentuh/tertarik. Di luar kandang diletakkan makanan untuk merangsang kucing agar bergerak ke-luar. Pada awalnya, reaksi kucing menunjukkan sikap yang tidak terarah, seperti meloncat yang tidak menentu, hingga akhirnya suatu saat gerakan kucing menyentuh tali yang menyebabkan pintu terbuka.
Setelah percobaan itu diulang-ulang, ternyata tingkah laku kucing untuk keluar dari kandang menjadi semakin efisien. Itu berarti, kucing dapat memilih atau menyeleksi antara respons yang berguna dan yang tidak. Respons yang berhasil untuk membuka pintu, yaitu menyentuh tali akan dibuat pembiasaan, sedangkan respons lainnya dilupakan. Eksperimen itu menunjukkan adanya hubungan kuat antara stimulus dan respons.
Thorndike merumuskan hasil eksperimennya ke dalam tiga hukum dasar (Suwardi, 2005: 34-36), sebagai berikut:
a.    Hukum Kesiapan (The Law of Readiness)
b.     Hukum Latihan (The Law of Exercise)
c.    Hukum Akibat (The Law of Effect)
2. TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
Teori behavioristik mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Pandangan behavioristik mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati dan diukur. Yang bisa diamati dan diukur hanyalah stimulus dan respons.
Penguatan (reinforcement) adalah faktor penting dalam belajar. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Demikian juga jika penguatan dikurangi (negative reinforcement) maka respons juga akan menguat. Tokoh-tokoh penting teori behavioristik antara lain Thorndike, Watson, Skiner, Hull dan Guthrie.

3. TEORI BELAJAR KOGNITIF
Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan balk jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang.
Di antara para pakar teori kognitif, paling tidak ada tiga yang terkenal yaitu Piaget, Bruner, dan Ausubel. Menurut Piaget

4. TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISTIK
Usaha mengembangkan manusia dan masyarakat yang memiliki kepekaan, mandiri, bertanggungjawab, dapat mendidik dirinya sendiri sepanjang hayat, serta mampu berkolaborasi dalam memecahkan masalah, diperlukan layanan pendidikan yang mampu melihat kaitan antara ciri-ciri manusia tersebut, dengan praktik-praktik pendidikan dan pembelajaran untuk mewujudkannya. Pandangan konstruktivistik yang mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasi yang menuju pada pembentukan struktur kognitifnya, memungkinkan mengarah kepada tujuan tersebut. Oleh karena itu, pembelajaran diusahakan agar dapat memberikan kondisi terjadinya proses pembentukan tersebut secara optimal pada diri siswa.
Proses belajar sebagai suatu usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi, akan membentuk suatu konstruksi pengetahuan yang menuju pada kemutakhiran struktur kognitifnya. Guru-guru konstruktivistik yang mengakui dan menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri, kegiatan pembelajaran yang dilakukannya akan diarahkan agar terjadi aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal.


BAB III
KESIMPULAN
            Melihat kenyataan yang ada pada uraian di atas, peran orang tua maupun guru sangat penting untuk pertumbuhan pola pikir anak. Anak perlu pujian, maka pujilah anak meskipun anak tersebut belum mencapai hasil yang maksimal karena anak tersebut setidaknya telah mencoba. Tingkatkanlah motivasi anak agar mereka akan terus mencoba menggali potensi diri dan tidak mengulangi kegagalan tersebut. Jangan pernah menghalang-halangi bakat dan minat anak karena apabila orang tua selalu menghalangi anak, anak tersebut tidak akan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Kurangnya pendekatan antara murid dan guru di sekolah juga harus dilakukan agar guru juga lebih mengetahui kondisi anak tersebut. Orang tua dan guru di sekolah hanya dapat mengarahkan dan memberi dukungan agar anak dapat lebih percaya diri.




DAFTAR PUSTAKA
Rohman, Arif. 2009. Memahami pendidikan dan Ilmu Pendidikan. Mediatama : Yogyakarta
Sukardjo, M dan Komarudin Ukim. 2009. Landasan Kependidikan. Rajawali Pers : Jakarta






Tidak ada komentar:

Posting Komentar