ARTIKEL PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN
NURMA EKA LESTARI
8105132163
PENDIDIKAN EKONOMI REG
B
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG MASALAH
Peran
orang tua sangat besar dalam mendidik anaknya. Seorang ibu yang melahirkan anak
menjaga dan memeliharanya dengan baik. Mereka terus mendidik anaknya dengan
sabar agar dapat mengucapkan kata, berbicara, makan, dan belajar sendiri.
Bahkan sampai menginjak dewasa, orang tua masih terus mendidik anaknya agar
menjadi anak yang mandiri dan matang dan dapat menjalani hidupnya sendiri.
Seiring berjalannya waktu, seiring dengan pertumbuhan
anak, orang tua semakin berubah. Ada sebagian dari mereka yang tidak peduli
kepada anak karena terlalu sibuk dengan dunianya dan menganggap anaknya sudah
besar dan mandiri. Tapi sebenarnya anak itu masih membutuhkan perhatian dan
kasih sayang. Lalu adapula orang tua yang sebenarnya sayang kepada anaknya
tetapi tidak tahu cara mengekspresikan dan menunjukkan rasa sayangnya kepada
anaknya. Begitupula dengan guru di sekolah. Mereka hanya bisa memarahi bahkan
mengecap anak didiknya yang tidak-tidak.
Akan tetapi, banyak kesalahan yang sering dilakukan orang
tua maupun guru di sekolah. Jika tidak ditanggapi dengan serius, kesalahan-kesalahan
tersebut akan menimbulkan masalah yang besar. Misalnya anak yang di didik
dengan keras dan kasar oleh orang tuanya. Hal tersebut akan menumbuhkan rasa
takut dan minder pada anak atau bisa jadi anak tersebut sewaktu-waktu akan
meniru perbuatan orang tua dan guru yang kasar tersebut. Anak juga akan lebih
berani melawan orang tua di rumah.
Jika anak kurang kasih sayang dari orang tua, anak itu akan mencari kasih
sayang diluar rumah. Anak tersebut juga akan terpengaruh pada pergaulan yang
bisa jadi akan menjerumuskannya ke perilaku menyimpang. Terkadang orang tua
hanya bisa memerintah tanpa bisa memberi contoh yang sesuai dengan
perkataannya kepada anaknya.
BAB II
ISI
Pendidikan merupakan hal terbesar yang selalu diutamakan oleh
para orang tua. Saat ini masyarakat semakin menyadari pentingnya memberikan
pendidikan yang terbaik kepada anak-anak mereka sejak dini. Untuk itu orang tua memegang peranan yang
sangat penting dalam membimbing dan mendampingi anak dalam kehidupan keseharian
anak. Sudah merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan
yang kondusif sehingga dapat memancing keluar potensi anak. Kecerdasan dan rasa
percaya diri. Dan tidak lupa memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan
pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap.
Dapat kita lihat penyebab pada banyak kasus diatas yaitu,
orang tua sering memaksakan kehendak mereka terhadap anak-anak mereka tanpa
mengindahkan pikiran dan suara hati anak. Orang tua merasa paling tahu apa yang terbaik
untuk anak-anak mereka. Hal ini sering dilakukan oleh orang tua yang berusaha
mewujudkan impian mereka yang tidak dapat mereka raih saat mereka masih muda
melalui anak-anak mereka. Kejadian seperti ini tidak seharusnya terjadi jika
orang tua menyadari potensi dan bakat yang dimiliki oleh anak mereka. Serta
memberikan dukungan moril dan sarana untuk membantu anak mereka mengembangkan
potensi dan bakat yang ada.
Anak akan mampu mengingat segala kejadian yang pernah ia
alami dalam hidupnya, termasuk perlakuan orang tua kepadanya. Oleh karena itu,
walaupun dalam hal yang kita anggap sepele, tetapi penting bagi orang tua
menciptakan tindakan yang mencerminkan rasa cinta dan kasih sayang yang tulus
itu kepada anak. Misalnya menghadiri kegiatan ekstrakurikuler anak.
Untuk itu,
dibutuhkan teori-teori dari beberapa para ahli untuk dapat memecahkan
masalah di atas. Dan saya rasa teori berikut dapat memecahkan masalah tersebut.
1. Teori Koneksionisme
Edward Lee Thorndike adalah tokoh psikologi yang mampu memberikan pengaruh besar terhadap berlangsungnya proses pembelajaran. Teorinya dikenal dengan teori Stimulus-Respons. Menurutnya, dasar belajar adalah asosiasi antara stimulus (S) de¬ngan respons (R). Stimulus akan memberi kesan ke-pada pancaindra, sedangkan respons akan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan. Asosiasi seperti itu disebut Connection. Prinsip itulah yang kemudian disebut sebagai teori Connectionism.
Pendidikan yang dilakukan Thorndike adalah menghadapkan subjek pada situasi yang mengandung problem. Model eksperimen yang ditempuhnya sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan kucing sebagai objek penelitiannya. Kucing dalam keadaan lapar dimasukkan ke dalam kandang yang dibuat sedemikian rupa, dengan model pintu yang dihubungkan dengan tali. Pintu tersebut akan terbuka jika tali tersentuh/tertarik. Di luar kandang diletakkan makanan untuk merangsang kucing agar bergerak ke-luar. Pada awalnya, reaksi kucing menunjukkan sikap yang tidak terarah, seperti meloncat yang tidak menentu, hingga akhirnya suatu saat gerakan kucing menyentuh tali yang menyebabkan pintu terbuka.
Setelah percobaan itu diulang-ulang, ternyata tingkah laku kucing untuk keluar dari kandang menjadi semakin efisien. Itu berarti, kucing dapat memilih atau menyeleksi antara respons yang berguna dan yang tidak. Respons yang berhasil untuk membuka pintu, yaitu menyentuh tali akan dibuat pembiasaan, sedangkan respons lainnya dilupakan. Eksperimen itu menunjukkan adanya hubungan kuat antara stimulus dan respons.
Thorndike merumuskan hasil eksperimennya ke dalam tiga hukum dasar (Suwardi, 2005: 34-36), sebagai berikut:
Edward Lee Thorndike adalah tokoh psikologi yang mampu memberikan pengaruh besar terhadap berlangsungnya proses pembelajaran. Teorinya dikenal dengan teori Stimulus-Respons. Menurutnya, dasar belajar adalah asosiasi antara stimulus (S) de¬ngan respons (R). Stimulus akan memberi kesan ke-pada pancaindra, sedangkan respons akan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan. Asosiasi seperti itu disebut Connection. Prinsip itulah yang kemudian disebut sebagai teori Connectionism.
Pendidikan yang dilakukan Thorndike adalah menghadapkan subjek pada situasi yang mengandung problem. Model eksperimen yang ditempuhnya sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan kucing sebagai objek penelitiannya. Kucing dalam keadaan lapar dimasukkan ke dalam kandang yang dibuat sedemikian rupa, dengan model pintu yang dihubungkan dengan tali. Pintu tersebut akan terbuka jika tali tersentuh/tertarik. Di luar kandang diletakkan makanan untuk merangsang kucing agar bergerak ke-luar. Pada awalnya, reaksi kucing menunjukkan sikap yang tidak terarah, seperti meloncat yang tidak menentu, hingga akhirnya suatu saat gerakan kucing menyentuh tali yang menyebabkan pintu terbuka.
Setelah percobaan itu diulang-ulang, ternyata tingkah laku kucing untuk keluar dari kandang menjadi semakin efisien. Itu berarti, kucing dapat memilih atau menyeleksi antara respons yang berguna dan yang tidak. Respons yang berhasil untuk membuka pintu, yaitu menyentuh tali akan dibuat pembiasaan, sedangkan respons lainnya dilupakan. Eksperimen itu menunjukkan adanya hubungan kuat antara stimulus dan respons.
Thorndike merumuskan hasil eksperimennya ke dalam tiga hukum dasar (Suwardi, 2005: 34-36), sebagai berikut:
a. Hukum Kesiapan (The Law of
Readiness)
b. Hukum Latihan (The Law of Exercise)
c. Hukum Akibat (The Law of
Effect)
2. TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
Teori behavioristik mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Pandangan behavioristik mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati dan diukur. Yang bisa diamati dan diukur hanyalah stimulus dan respons.
Penguatan (reinforcement) adalah faktor penting dalam belajar. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Demikian juga jika penguatan dikurangi (negative reinforcement) maka respons juga akan menguat. Tokoh-tokoh penting teori behavioristik antara lain Thorndike, Watson, Skiner, Hull dan Guthrie.
Teori behavioristik mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Pandangan behavioristik mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati dan diukur. Yang bisa diamati dan diukur hanyalah stimulus dan respons.
Penguatan (reinforcement) adalah faktor penting dalam belajar. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Demikian juga jika penguatan dikurangi (negative reinforcement) maka respons juga akan menguat. Tokoh-tokoh penting teori behavioristik antara lain Thorndike, Watson, Skiner, Hull dan Guthrie.
3. TEORI BELAJAR KOGNITIF
Pengertian belajar menurut teori
kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk
tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa
setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam
bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan
balk jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur
kognitif yang telah dimiliki seseorang.
Di antara para pakar teori kognitif, paling tidak ada tiga yang terkenal yaitu Piaget, Bruner, dan Ausubel. Menurut Piaget
Di antara para pakar teori kognitif, paling tidak ada tiga yang terkenal yaitu Piaget, Bruner, dan Ausubel. Menurut Piaget
4.
TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISTIK
Usaha mengembangkan manusia dan masyarakat yang memiliki kepekaan, mandiri, bertanggungjawab, dapat mendidik dirinya sendiri sepanjang hayat, serta mampu berkolaborasi dalam memecahkan masalah, diperlukan layanan pendidikan yang mampu melihat kaitan antara ciri-ciri manusia tersebut, dengan praktik-praktik pendidikan dan pembelajaran untuk mewujudkannya. Pandangan konstruktivistik yang mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasi yang menuju pada pembentukan struktur kognitifnya, memungkinkan mengarah kepada tujuan tersebut. Oleh karena itu, pembelajaran diusahakan agar dapat memberikan kondisi terjadinya proses pembentukan tersebut secara optimal pada diri siswa.
Proses belajar sebagai suatu usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi, akan membentuk suatu konstruksi pengetahuan yang menuju pada kemutakhiran struktur kognitifnya. Guru-guru konstruktivistik yang mengakui dan menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri, kegiatan pembelajaran yang dilakukannya akan diarahkan agar terjadi aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal.
Usaha mengembangkan manusia dan masyarakat yang memiliki kepekaan, mandiri, bertanggungjawab, dapat mendidik dirinya sendiri sepanjang hayat, serta mampu berkolaborasi dalam memecahkan masalah, diperlukan layanan pendidikan yang mampu melihat kaitan antara ciri-ciri manusia tersebut, dengan praktik-praktik pendidikan dan pembelajaran untuk mewujudkannya. Pandangan konstruktivistik yang mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasi yang menuju pada pembentukan struktur kognitifnya, memungkinkan mengarah kepada tujuan tersebut. Oleh karena itu, pembelajaran diusahakan agar dapat memberikan kondisi terjadinya proses pembentukan tersebut secara optimal pada diri siswa.
Proses belajar sebagai suatu usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi, akan membentuk suatu konstruksi pengetahuan yang menuju pada kemutakhiran struktur kognitifnya. Guru-guru konstruktivistik yang mengakui dan menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri, kegiatan pembelajaran yang dilakukannya akan diarahkan agar terjadi aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal.
BAB III
KESIMPULAN
Melihat kenyataan yang ada pada uraian di atas, peran
orang tua maupun guru sangat penting untuk pertumbuhan pola pikir anak. Anak
perlu pujian, maka pujilah anak meskipun anak tersebut belum mencapai hasil
yang maksimal karena anak tersebut setidaknya telah mencoba. Tingkatkanlah
motivasi anak agar mereka akan terus mencoba menggali potensi diri dan tidak
mengulangi kegagalan tersebut. Jangan pernah menghalang-halangi bakat dan minat
anak karena apabila orang tua selalu menghalangi anak, anak tersebut tidak akan
mengembangkan potensi yang dimilikinya. Kurangnya pendekatan antara murid dan
guru di sekolah juga harus dilakukan agar guru juga lebih mengetahui kondisi
anak tersebut. Orang tua dan guru di sekolah hanya dapat mengarahkan dan
memberi dukungan agar anak dapat lebih percaya diri.
DAFTAR PUSTAKA
Rohman, Arif. 2009. Memahami pendidikan dan Ilmu Pendidikan.
Mediatama : Yogyakarta
Sukardjo, M dan Komarudin
Ukim. 2009. Landasan Kependidikan.
Rajawali Pers : Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar